Jika suatu hari kamu bangun dan menyadari bahwa kamu sudah tidak punya rumah, tidak punya kulkas untuk mencari mi instan, bahkan tidak punya tempat tidur untuk bermain ponsel sampai pukul 3 pagi… selamat, mungkin kamu sudah masuk ke dunia As Far As The Eye. Game ini merupakan perjalanan aneh sekelompok makhluk kecil bernama Pupils yang harus berjuang untuk bertahan hidup dan terus berjalan menuju “The Eye” – tujuan akhir di dunia yang sedang dilanda banjir besar.
Memperkenalkan As Far As The Eye
Sekilas, As Far As The Eye terlihat seperti kartu pos yang dikirim dari planet khusus bagi para introver. Nuansa warna pastel yang lembut seperti embun pagi, karakter-karakternya selembut puding, sementara musik latarnya menenangkan seperti suara ibu yang meninabobokan anak di siang musim panas. Namun, jangan sampai penampilannya menipu. Ini bukan perjalanan piknik santai di hutan, melainkan perjalanan bertahan hidup strategis yang sesungguhnya. Kamu akan menjadi orang yang menghitung rute perjalanan, kepala logistik, sekaligus pengelola pertanian. Terkadang kamu bahkan harus merangkap sebagai penyihir spiritual sekaligus pengasuh karena para Pupils sangat polos dan mudah menangis.
Perjalanan dari Satu Tahap ke Tahap Berikutnya
Setiap permainan dalam As Far As The Eye dibagi menjadi beberapa titik pemberhentian yang disebut “halts”, tempat kamu harus berhenti, mengumpulkan sumber daya, dan mempersiapkan perjalanan berikutnya. Setiap halt merupakan peta kecil dengan batas waktu karena banjir akan segera datang, dan sumber dayanya juga terbatas. Di setiap pemberhentian, kamu harus mempertimbangkan lokasi untuk mendirikan kemah, memilih bangunan yang sesuai, membangun infrastruktur, serta mengumpulkan sumber daya secukupnya, tidak lebih dan tidak kurang, karena membawa terlalu banyak barang bisa berakibat fatal. Pernah suatu kali saya sibuk mengumpulkan gandum dan batu untuk perjalanan jauh sampai lupa membuat kendaraan. Ketika banjir datang, seluruh tim hanya saling memandang kebingungan lalu tersapu habis. Tragis, tetapi juga tragis… sekaligus lucu.Setiap halt akan memaksamu membuat banyak keputusan dengan cepat, dan tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Kamu akan selalu kekurangan sesuatu: waktu, makanan, tenaga kerja, atau sekadar… ruang untuk menyimpan barang. Justru dalam kondisi serba kekurangan inilah game mampu menunjukkan sisi kejam sekaligus menantang kemampuan berpikirmu.
Pupils yang Mungil
Pupils bukan sekadar NPC bodoh. Mereka memiliki sistem statistik sendiri seperti kemampuan belajar, kemampuan membawa barang, kecepatan bekerja, dan tingkat ketekunan. Alih-alih naik level seperti RPG pada umumnya, Pupils mempelajari profesi melalui pekerjaan yang mereka lakukan – suruh menebang kayu, mereka akan menjadi penebang kayu; suruh melakukan penelitian, mereka akan menjadi cendekiawan. Namun, tidak semuanya mudah diatur. Ada yang malas, ada yang agresif, dan ada pula yang terlalu perfeksionis, sehingga melakukan segala sesuatu dengan sangat lambat serta tidak membiarkan siapa pun menyentuh pekerjaannya.Setelah memahami kepribadian setiap Pupils dalam As Far As The Eye, kamu akan mulai menyayangi mereka. Kamu akan memiliki Pupils favorit, ada yang suka membuat ulah, dan ada pula yang selalu membuat masalah. Semua itu menjadi bagian yang membuat game terasa sangat personal dan emosional.
Mekanisme Pembangunan
Setiap bangunan dalam As Far As The Eye bersifat sementara. Kamu membangunnya lalu meninggalkannya. Namun, bukan berarti kamu boleh membangun sembarangan. Setiap bangunan memiliki peran tersendiri, bisa menjadi tempat beristirahat, bengkel produksi kendaraan, sekolah untuk meningkatkan keterampilan, atau bahkan gudang penyimpanan sumber daya. Hal terpenting bukanlah seberapa banyak bangunan yang bisa kamu buat, melainkan apa yang harus dibangun, kapan membangunnya, dan kapan harus membongkarnya untuk menghemat sumber daya. Sama seperti sebuah perusahaan rintisan di daerah pedesaan yang dilanda banjir: harus mampu bergerak cepat, beradaptasi dengan cepat, dan tahu kapan harus menyerah pada sesuatu. Terlalu bernafsu membangun semuanya… tamat sudah.
Manajemen Sumber Daya yang… Bikin Deg-degan
Dalam As Far As The Eye, tidak ada cerita tentang menggali batu bara tanpa henti. Sumber daya terbatas, dan setiap kali kamu meninggalkan sebuah halt, tempat tersebut akan menjadi terlantar dan tidak bisa dikunjungi kembali. Game memaksamu memikirkan masalah persediaan: apa yang harus dibawa, apa yang harus ditinggalkan, dan berapa banyak yang perlu dipersiapkan untuk perjalanan berikutnya, sementara kamu tidak tahu seperti apa peta yang akan kamu hadapi. Pernah suatu kali saya membawa terlalu banyak batu karena takut kekurangan, tetapi ternyata peta berikutnya penuh dengan batu dan justru kekurangan makanan. Para Pupils memandang saya seperti sedang melihat seorang pengkhianat. Hal menariknya adalah setiap kegagalan merupakan kesalahanmu sendiri. Kamu tidak bisa menyalahkan sistem, AI, ataupun keberuntungan. Semuanya bergantung pada keputusan pemain.
Tujuan The Eye – Sebuah Tempat Misterius
Kamu diberi tahu bahwa tugasmu adalah membawa para Pupils menuju The Eye, tetapi di mana tempat itu? Apakah tempat yang aman? Apakah surga? Tidak ada yang tahu. As Far As The Eye tidak memberikan jawaban yang jelas. Hanya ada satu deskripsi bahwa “membawa mereka menuju The Eye adalah satu-satunya tujuan”. Kamu terus berjalan karena memang harus berjalan. Dan perjalanan itu semakin lama semakin sulit, semakin panjang, dan semakin rumit. Akan ada saat ketika kamu bertanya-tanya: apa yang sebenarnya menunggu di sana? Atau jangan-jangan hanya ada sebuah akhir yang kosong?Justru ketidakjelasan itulah yang membuat The Eye menjadi simbol yang begitu indah, seperti tujuan hidup yang tidak pernah kita tahu apa yang menanti di ujung jalan, tetapi kita tetap berjalan karena berhenti berarti berakhir.
As Far As The Eye Tidak Memiliki Cerita, tetapi Penuh Emosi
Orang sering berpikir bahwa sebuah game harus memiliki cerita yang rapi jika ingin menyampaikan emosi: harus ada karakter utama dengan motivasi yang jelas, penjahat kejam, plot twist yang membuat pemain merasa terpukul, klimaks yang menegangkan, serta akhir yang tragis atau terbuka untuk direnungkan. Namun, As Far As The Eye seolah berkata: “Di sini kami tidak melakukan semua itu.”Sepanjang perjalanan bersama para Pupils, kamu tidak akan menemukan satu dialog pun yang benar-benar berfungsi sebagai narasi cerita, tidak ada cutscene penuh emosi yang memaksamu untuk merasa sedih. Bahkan, kamu tidak tahu siapa sebenarnya para Pupils, dari mana mereka berasal, atau mengapa mereka harus mencari The Eye. Justru ketidaktahuan itulah yang membuat emosi tumbuh secara alami. Game ini tidak memaksakan perasaan dan tidak mengendalikan pikiranmu dengan cara seperti “kamu harus merasa iba di sini, kamu harus menderita di bagian ini”. Sebaliknya, game hanya diam-diam menyediakan kerangka, lalu membiarkanmu menggambar ceritamu sendiri.As Far As The Eye bercerita melalui apa yang telah kamu lakukan, maupun apa yang tidak kamu lakukan. Melalui setiap kali kamu memilih jalur yang lebih sulit demi mempertahankan beberapa kilogram beras. Melalui setiap keputusan untuk meninggalkan atau mempertahankan sesuatu, berkorban atau terus bertahan. Game ini tidak memaksamu untuk meneteskan air mata – tetapi jika ada air mata yang jatuh, perasaan itu benar-benar berasal darimu. Tidak ada yang memberitahumu bahwa kamu harus menyayangi para Pupils. Namun, kamu akan menyayangi mereka. Dan kamu akan mengingat mereka. Karena emosi tidak datang dari cutscene megah atau dialog filosofis. Emosi muncul dari cara kamu menjalani hidup di dunia kecil tersebut.
Unduh Game As Far As The Eye APK Gratis untuk Android
As Far As The Eye adalah permata kecil di tengah rimba game indie. Game ini tidak terburu-buru, tidak berteriak, dan tidak menawarkan flash sale. Game ini hanya memberimu sebuah peta, beberapa anak kecil, sebuah tujuan yang samar, lalu berkata: “Cobalah lihat seberapa jauh kamu bisa membawa mereka.” Tidak semua orang akan cocok dengan game ini. Namun, jika kamu adalah tipe orang yang suka merenung, menyukai perasaan melepaskan, berkorban, membangun kembali, dan mencoba sekali lagi, game ini akan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.